Menciptakan Buku Pelajaran Sekolah yang Mencerdaskan?

E-mail Print PDF
User Rating: / 1
PoorBest 

Pada Oktober 2006 lalu, ada sebuah pengumuman tentang lomba membuat buku yang tak biasa. Penyelenggara lomba adalah Direktorat Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia. Secara lengkap, tema lomba yang diadakan oleh DEPAG adalah “Menggagas Buku Pelajaran MIPA yang Mencerdaskan”. Dan buku pelajaran MIPA yang diharapkan lahir dari lomba tersebut adalah buku pelajaran yang nantinya ditujukan kepada para pelajar yang duduk di Kelas 1 Madrasah Aliyah (setingkat SMA).

Panitia lomba kemudian menetapkan tiga kriteria-utama untuk mendeteksi buku pelajaran yang dapat dikatakan sesuai yang diinginkan panitia. Pertama, penilaian naskah lomba mengacu pada instrumen penilaian buku pelajaran yang telah ditentukan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan); kedua, mengacu pada aspek kebahasaan dan kreativitas; dan ketiga mengacu ke aspek religiositas-spiritualitas. Aspek pertama jelas terkait dengan content, aspek kedua terkait dengan context, dan aspek ketiga terkait dengan pembaca buku pelajaran yang adalah para pelajar yang beragama Islam.

Akhirnya, lomba itu pun menemukan pemenangnya, setelah pada 22 Juni 2007, panitia mengumumkan para peserta yang naskahnya masuk nominasi. Namun, bukan hasil akhir lomba yang kemudian layak untuk kita cermati. Yang sangat pantas untuk kita cermati saat ini adalah apakah selama ini belum ada buku pelajaran yang digunakan di sekolah-sekolah yang benar-benar mencerdaskan? Pertanyaan semacam ini masih dapat dideretkan lebih panjang, misalnya, apakah buku pelajaran yang digunakan selama ini benar-benar telah berfungsi sebagaimana buku yang memang enak-nyaman dibaca dan membuat para pembacanya senang?


Apakah buku pelajaran dapat dikaitkan dengan minat baca? Apakah buku-buku pelajaran yang beredar di sekolah pada saat ini dapat meningkatkan minat baca para pelajar? Memang, belum ada survei tentang hal ini. Namun, alangkah menariknya apabila buku pelajaran dapat berfungsi juga untuk meningkatkan minat baca para pelajar. Pemikiran ini lahir karena setiap hari, dari Senin hingga Jumat, para pelajar itu pastilah membaca dan menggunakan buku pelajaran. Apa jadinya apabila buku pelajaran itu tidak dapat menggairahkan kegiatan membaca mereka?

Sejak pertengahan 2008 lalu, pemerintah, lewat kebijakan Departemen Pendidiikan Nasional, mulai memperkenalkan Buku Teks Pelajaran Murah yang dikenal dengan Buku Sekolah Elektronik (BSE) atau e-book. Buku Teks Pelajaran Murah itu tersedia secara gratis di website Depdiknas. Siapa saja boleh mengunduhnya dan menggunakan untuk kepentingan pembelajaran. Pertanyaan yang masih tersisa hingga kini adalah apakah kebijakan pemerintah menjadikan buku pelajaran sebagai buku sekolah elektronik akan mampu meningkatkan minat baca para pelajar?

Dalam menyambut diluncurkannya BSE, Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo, menulis, “Saya berharap melalui Program Masal Buku Murah ini, buku teks pelajaran lebih mudah diakses sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah di luar negeri dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar yang bermutu dan terjangkau.” Sekali lagi, pertanyaan yang mungkin cukup penting untuk kita lontarkan adalah apakah dengan program memasyaratkan buku teks murah ini, para pelajar kita lantas mampu meningkatkan minat membacanya?[]

Dikutip dari tulisan Hernowo, yang dipublish di EKUAKOR e-magazine mizan.com Edisi Februari 2009

Last Updated ( Thursday, 23 July 2009 11:12 )