Pada Oktober 2006 lalu, ada sebuah pengumuman tentang lomba membuat buku yang tak biasa. Penyelenggara lomba adalah Direktorat Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia. Secara lengkap, tema lomba yang diadakan oleh DEPAG adalah “Menggagas Buku Pelajaran MIPA yang Mencerdaskan”. Dan buku pelajaran MIPA yang diharapkan lahir dari lomba tersebut adalah buku pelajaran yang nantinya ditujukan kepada para pelajar yang duduk di Kelas 1 Madrasah Aliyah (setingkat SMA).

Panitia lomba kemudian menetapkan tiga kriteria-utama untuk mendeteksi buku pelajaran yang dapat dikatakan sesuai yang diinginkan panitia. Pertama, penilaian naskah lomba mengacu pada instrumen penilaian buku pelajaran yang telah ditentukan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan); kedua, mengacu pada aspek kebahasaan dan kreativitas; dan ketiga mengacu ke aspek religiositas-spiritualitas. Aspek pertama jelas terkait dengan content, aspek kedua terkait dengan context, dan aspek ketiga terkait dengan pembaca buku pelajaran yang adalah para pelajar yang beragama Islam.
Akhirnya, lomba itu pun menemukan pemenangnya, setelah pada 22 Juni 2007, panitia mengumumkan para peserta yang naskahnya masuk nominasi. Namun, bukan hasil akhir lomba yang kemudian layak untuk kita cermati. Yang sangat pantas untuk kita cermati saat ini adalah apakah selama ini belum ada buku pelajaran yang digunakan di sekolah-sekolah yang benar-benar mencerdaskan? Pertanyaan semacam ini masih dapat dideretkan lebih panjang, misalnya, apakah buku pelajaran yang digunakan selama ini benar-benar telah berfungsi sebagaimana buku yang memang enak-nyaman dibaca dan membuat para pembacanya senang?






















Para peneliti Lapan kembali menekankan bahwa kenaikan aktivitas badai matahari pada tahun 2013 tidak akan menghancurkan peradaban manusia.
Dari 72 jenis tumbuhan, Soejono memastikan ada 11 jenis beringin yang dipastikan sebagai tanaman asli atau penanamannya tanpa intervensi manusia.
Balai Arkeologi Ambon menemukan sejumlah goa dan cekungan pada tebing cadas di wilayah Maluku sebagai jejak kehidupan manusia prasejarah.
Gempa yang menerjang Turki pada Senin (8/3/2010) merupakan jenis gempa yang tergolong kompleks karena jenis tumbukannya.
Mimpi mereka hanya satu, melihat bunga Rafflesia arnoldii tumbuh aman dan terjaga. Empat laki-laki bersaudara kandung itu tidak ingin anak cucu mereka atau dunia luar kelak hanya mengenal bunga eksotis itu dari foto atau gambar saja.